Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pengaruh Pendidikan Anak Usia Dini Terhadap Prestasi Belajar Siswa Sekolah Dasar



Pengaruh Pendidikan Anak Usia Dini Terhadap Prestasi Belajar Siswa Sekolah Dasar



Beberap permasalahan yang timbul ketika anak baru memasuki sekolah dasar adalah kebanyakan orang tua mengeluhkan sang anak belum bisa membaca dan menghitung. Padahal untuk menerima pelajaran dengan optimal tentunya anak harus memiliki ketrampilan tersebut.

Nah, kali ini kita akan membahas permasalahan tersebut, bagaimana korelasi hubungan pendidikan anak usia dini terhadap prestasi belajar siswa sekolah dasar.

Menurut Supriadi (2004), dirinya  menjelaskan hasil penelitian yang dilakukan oleh National Institute for Educational Research (NIER) di Jepang tentang pengaruh pendidikan anak usia dini (hoikusho dan yochien) terhadap prestasi belajar anak setelah berada di sekolah dasar, sebagai berikut  : 

1) Anak-anak yang pernah mengikuti pendidikan anak usia dini memiliki pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar mereka. 

2) Anak-anak yang belajar di taman kanak-kanak selama dua tahunpengaruhnya lebih nyata terhadap prestasi belajar mereka ketika di sekolah dasar di banding denganbelajar satu tahun atau tiga tahun (dalam Anam,2007).


 Menurut M. Sardja (1981) dalam disertasinya di IKIP Jakarta menjelaskan : 

1) Pengalaman anak-anak selama di taman kanak-kanak mempengaruhi secara nyata terhadap prestasi belajar membaca dan matematika siswa kelas I SD di Jakarta. 

2) Anak-anak yang sebelumnya tidak pernah belajar di taman kanak-kanak, saat di kelas I SD lebih
sering mengalami kesulitan belajar membaca dibanding dengan murid-murid yang sebelumnya
masuk TK. (dalam Anam, 2007).

Hasil penelitian Direktorat Pendidikan Dasar Depdiknas (2000) menunjukkan pendidikan taman
kanak-kanak memiliki kontribusi terhadap kesiapan belajar siswa di kelas I SD. Kontribusi ini terjadi pada semua aspek kesiapan belajar, mulai bahasa, kecerdasan, sosial, motorik, moral, perasaan, daya cipta dan kedisiplinan. (dalam Anam, 2007). 

Begitu pula dengan hasil penelitian Balitbang (2004) menunjukkan, terdapat 841.662 siswa SD/MI yang mengulang kelas mulai kelas I - VI :  

  • kelas I sebanyak 292.462 siswa, 
  • kelas II sebanyak 165.888 siswa, 
  • kelas III sebanyak 131.159 siswa, 
  • kelas IV sebanyak 94.829 siswa, 
  • kelas V sebanyak 56.776 siswa, 
  • kelas VI sebanyak 8.424 siswa. 

Sedangkan yang mengulang di MI mulai kelas I sampai dengan VI adalah
92.124 siswa. (dalam Anam, 2007).


Diah Harianti Kapuskur Depdiknas, mengatakan bahwa permasalahan utama anak yang baru masuk SD adalah school readiness, disamping banyak hal yang melatar belakangi kondisi anak mau masuk SD, seperti: kondisi fisik bawaan anak dan kondisi fisik rumah yang sangat mempengaruhi tumbuh kembang anak; kondisi psikososial anak di rumah; perbedaan pendidikan di rumah dengan di sekolah; saat belajar di rumah, interaksi terjadi antara satu orang dengan satu orang lainnya, misalnya antara orang tua dengan anaknya, 

Sedangkan di sekolah antara satu orang guru dengan siswa satu kelas; anak tumbuh dengan kecerdasan yang berbeda (individual differential treatment). Selain itu, situasi, kesibukan dan kebiasaan orang tua di rumah turut melatarbelakangi kondisi anak masuk SD. Misalnya kesibukan kerja, sulitnya membagi waktu, dan sebagainya.


Selain itu terdapat pula beberapa hal yang memberatkan anak, yaitu : 

1) Anak yang baru
masuk SD langsung diperlakukan seperti anakanak kelas tinggi; 

2) Guru kelas awal langsung
menggunakan bahasa Indonsia, padahal hal tersebut
membuat prestasi anak menjadi turun terutama
di SD-SD pedesaan

Menurut Husni Muadz, Kapuslit Bahasa dan Kebudayaan Universitas Mataram-Nusa Tenggara Barat. Jika mau berhasil secara akademis maupun kultural, kelas-kelas awal harus menggunakan bahasa ibu, kecuali jika memang dari awalnya menggunakan bahasa
Indonesia; 


3) Muhammad Ali mengatakan bahwa
sarana dan prasarana fisik serta kualitas sumber
daya manusia sekolah yang kurang mendukung
terlaksananya pembelajaran yang baik di SD-SD,
terutama SD Inpres (Anam, 2007).


Dari uraian di atas, diambil kesimpulan bahwa anak-anak yang mengulang kelas (kurang
berprestasi) pada umumnya adalah anak-anak yang tidak memasuki pendidikan pra sekolah sebelum masuk SD. 

Mereka adalah anak yang belum siap dan tidak dipersiapkan oleh orang tuanya memasuki SD. Adanya perbedaan yang besar antara pola pendidikan di sekolah dan di rumah menyebabkan anak yang tidak masuk pendidikan prasekolah mengalami kejutan, mereka mogok sekolah karena tidak mampu menyesuaikan diri, sehingga tidak dapat berkembang secara optimal. 

Hal ini menunjukkan pentingnya upaya pengembangan seluruh potensi anak semenjak usia dini. Ini berarti, pendidikan taman kanak-kanak atau prasekolah memiliki potensi sangat strategis dalam meningkatkan prestasi belajar dan mencegah putus sekolah.

Melalui proses pendidikan, pada gilirannya dapatlah diketahui tingkat perkembangan kemampuan mereka, baik siswa yang berasal dari pendidikan anak usia dini (formal) maupun non formal sehingga bisa berprestasi di sekolahnya.


Sekian Semoga bermanfaat bagi orang tua untuk menyekolahkan anak-anaknya di TK/PAUD, agar ketika anak masuk SD setidaknya sudah mempunyai bekal yang memadai untuk bisa berprestasi di sekolahnya.


Posting Komentar untuk "Pengaruh Pendidikan Anak Usia Dini Terhadap Prestasi Belajar Siswa Sekolah Dasar"